Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam kondisi seperti apapun adalah tuan rumah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) hingga pun waktu berganti atau sampai kampus tersebut rebah setiggi rapatan tanah. IMM menjadi tolok ukur keberpihakan Birokrasi kampus tersebut terhadap pengembangan ideologi Muhammadiyah. Muhammadiyah selama ini tak bisa bertumpu penuh terhadap organisasi otonom lain untuk pengembangan dakwahnya di kalangan mahasiswa, selain IMM. Sejarah telah memaparkan hal ini dengan sejelas-jelasnya. IMM niscaya hadir sebagai eksponen dakwah Muhammadiyah di kampus, ini seperti yang ditandaskan oleh KH. Ahmad Badawi yang kemudian dikenal dengan Enam Penegasaan IMM.
IMM sebagai lumbung intelektual Muhammadiyah sudah menjadi kesemestian fokus Birokrasi Kampus PTM. Pembinaan yang serius, dukungan baik moril pun materil, semua itu tak bisa dielakkan oleh pihak birokrasi kampus. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang manusia, ibarat Orangtua pada anaknya atau Kakak terhadap adiknya. Nalar dan daya kritis tak semestinya dikungkung, sebab dengan berpikir kritislah potensi Intelektual benar-benar akan mencapai puncak gemilang.
Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) telah melenceng dari garis lurus khittah dan amanat Muhammadiyah. Membiarkan IMM, tidak memberpihaki gerakan-dakwahnya adalah bentuk pengkhianatan amanat kaderisasi di Muhammadiyah. UMK telah mengalami kemunduran dalam memberpihaki gerakan dan dakwah IMM.
Pada tahun-tahun sebelumnya IMM di UMK pernah mengelolah Masa Taaruf Mahasiswa (Mastama) secara mandiri. Periode kepemimpinan Rektor yang lalu—sebelum ini—bahkan dalam penyambutan mahasiswa baru pernah mengadakan Darul Arqam Dasar IMM. Nah saat ini pimpinan kampus justru tidak memberikan ruang kepada IMM di UMK. Sejak tahun kemarin diselenggaran OSDIK atau Orientasi Studi Dasar-Dasar Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai pengganti Mastama.
Sungguh ironi telah bertumpuk-tampuk. Ada oknum Pimpinan UMK menyatakan bahwa mahasiswa baru yang telah mengikuti OSDIK tidak diwajibkan lagi mengikuti Perkaderan IMM. Ini jelas pernyataan yang bertentang-berpaling jauh dari jalan lurus eksistensi UMK sebagai PTM seperti yang telah disebutkan di atas.
Padahal IMM melakukan semua itu demi dakwah ikatan dan demi masa depan Muhammadiyah. Sudah seharunsya UMK bisa melahirkan kader ideologis yang militan, salah satu jalannya adalah IMM diberikan ruang beraktivitas juga dapat difasilitasi oleh Pimpinan UMK. Kami menegaskan bahwa Pimpinan UMK harus menfasilitasi segala kepentingan dakwah IMM di UMK, bertanggungjawab membesarkan dan membina IMM di UMK.
Kebijakan penyambutan Mahasiswa Baru tahun ini sangat kami sesalkan oleh karena itu kami akan menindaklanjuti dan akan melaporkan kepada Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti) PP Muhammadiyah bahwa Pimpinan UMK tidak serius membina IMM di UMK. Hal ini bertujuan agar Majelis Dikti PP Muhammadiyah mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi di UMK. Kami menduga, jangan sampai selama ini dalam pertemuan Pimpinan PTM se-Indonesia, Pimpinan PTM melaporkan hal yang bertentangan dengan realitas yang terjadi. Ini pun akan kami adukan juga kepada PP Muhammadiyah sebagai episentrum gerakan Muhammadiyah.
Oleh : Supratman (Ketua Umum DPD IMM Sultra)
Editor : HM
Editor : HM

Komentar
Posting Komentar