Teppettu Maoompennge’, Teppolo Massellomoe’ (Sebuah Cerpen Peribahasa Bugis)




Fuad Amsyari, S.T.

(Penulis adalah Ketua Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat 

DPD IMM Sulawesi Tenggara Periode 2016-2018, 

Mahasiswa Pascasarjana Kimia Universitas Halu Oleo)


Profesor maju ke depan papan tulis. “Brak!”. Serentak mahasiswa tersentak kaget karena papan lipat tiga ditekuk dengan kencang oleh dosen paling menakutkan seantero fakultas. Tidak kejam tapi tegas. Kapur warna-warninya yang khas menjadi kesukaan tersendiri bagi beberapa mahasiswa pecinta seni lukis. Artistik. Klasik. Papan untuk spidol whiteboard dibalik menjadi papan kapur ditulis dengan 2 kata. “Sastra Klasik”. 



“Ayo! Silahkan, siapa yang bisa menjadi menjawab?” dengan tatapan tajam ia melanjutkan perkataannya dengan nada nyaring khas komentator sepakbola. “Seperti apa, dan kenapa perlu mempelajarinya?”. Detak jantung mahasiswa mulai berdegup kencang. Hormon adrenalin mulai ikut terpacu pertanda mereka harus bersiap menjawab dengan cerdas atau keluar ruangan. 


“Leng, apa ya jawabannya?” Upe menyenggol Uleng sambil bersuara lirih. “Nih, baca!” Uleng menyodorkan buku Gerbang Sastra karya Untung.


“Krek”. Pintu depan tiba-tiba terbuka. Unru sedikit membungkuk dan mengusap kening berceceran keringat. “Unru, kamu terlambat 10 menit!”. “ Maaf Pak, tadi habis bantu nenek dipinggir jalan untuk menyeberang. Toh, keterlambatan maksimal 15 menit sesuai kesepakatan kelas Pak” sambil tersenyum kecil.


“Oke. Ya sudah, sebelum duduk silakan jawab pertanyaan saya, seperti apa dan mengapa kita harus mempelajarinya?” menunjuk papan tulis. Unru terdiam sejenak. Kelas menjadi hening. Unru tahu kalau tidak bisa menjawab harus keluar ruangan tanpa harus sang profesor menjelaskan dahulu. 


“Hmm.... Menurut saya Pak, sastra klasik itu seperti lontaranya Makassar. Kita harus mengetahui sastra secara mendalam agar dapat belajar nilai leluhur yang baik dan bisa baper!”. “Hahahaha”. Serentak seisi ruangan tertawa sambil tepuk tangan dan kursi. Sekian detik kelas menjadi kacau karena akhir kalimat Unru. 


“Kamu!” Sambil menunjuk memakai tongkat naga. “Maaf Pak, saya merasa benar. Menurut Renald Kasali, baper itu singkatan dari bawa perubahan. Sebagai generasi yang mulai kehilangan nilai budaya leluhur yang baik, wajib mencari dan mengaplikasikan agar tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”, tutur Unru. Dia memasang wajah pura pura di depan kelas. “Oke. Silahkan duduk.”


“Ampa, bagaimana hasil jawabanku?” tanya Unru ke Ampa. “Kau memang temanku yang handal dan cerdas” jawab Ampa dan langsung memberi acungan jempol. “Uhhh , panas!”. “Mpa, kamu tidak kepanasankah?”. “Aku malah kedinginan, tadi malam begadang, pagi sudah meriang!” jawab Ampa ke Unru. 


“Pak, Interupsi! Bisakah AC dinyalakan? Saya kepanasan. Ups, tapi karena berhubung di sebelah saya sakit dan kedinginan, bolehkah saya meminta kebijakan Bapak yang baik hati agar mematikan atau mengecilkan menggunakan remot yang ditumpukan buku Bapak!”


“Huuuu”... sorakan demi sorakan berhamburan. Kebanyakan mahasiswa sastra merasakan kegerahan seperti yang dialami Unru. 


"Pak, mohon izin untuk berbicara”, ujar Ambo menunjuk tangannya ke langit-langit. “Silakan!”. “Hemat saya Pak, bahwa kebanyakan mahasiswa merasa kepanasan, maka mohon AC-nya tidak dimatikan atau dikecilkan. Satu orang harus mengalah dan toleran pada mayoritas. Sebaiknya jikalau diperbolehkan Bapak bisa mengizinkan Ampa untuk tidak mengikuti kuliah dikarenakan sakit. Daripada dia hanya menyusahkan kita di kelas dengan kemauan ini dan itu. Bagaimana teman-teman? Sepakat?!”, dalih Ambo meminta dukungan. Dan sorak kelas mengiyakan. 


“Oke, tenang semuanya, saya harap diam.” Tutur Profesor sambil memukul pelan-pelan meja. “Ampa ambil tas, dan pulang!”, suruh profesor dengan tegas. 


Ampa berfikir sejenak karena niat dan semangat untuk masuk kelas. Tas merah khas batik langsung digendong sambil beranjak meninggalkan kursi. Sentak unru menangkat tangan dan meninggikan suara. “Interupsi Prof, saya mengenal Ampa dengan baik. Ketika Ampa masuk kelas berarti tekad bulat sudah terpatri di dalam hati maka pantang untuk mundur. Kalau hanya demam, pastilah dia paksakan. Setegah apakah kita membiarkan niat tulus ikhlas dan tekad bulat membara untuk pulang hanya gara-gara untuk memberi kondisi lebih baik dan fokus yang lebih? Saya hanya mengusul agar kondisinya lebih baik”, tegas Unru. Memainkan retorika bukan hal yang susah baginya. Seisi kelas mulai terdiam bahkan Profesor pun tampak hening sejenak, layaknya mengheningkan cipta upacara bendera.


“Setelah mendengar penjelasan salah satu teman kalian, apa pendapat kalian?”, hela profesor seperti memimpin sidang soal rakyat ala-ala DPR.


Salah satu mahasiswa mengiyakan pendapat Unru. Mereka semua mengaminkan. Melihat konsensus dan hasil mufakat profesor pun langsung meminta Ampa kembali duduk. Perkuliahan dilanjutkan, dan profesor menjelaskan tema pembahasan awal hingga keakar. Hasil pun tak mengkhianati proses.


Teppettu maoompennge’, teppolo massellomoe’.
(Tak akan putus yang kendur, tak akan patah yang lentur).


Artinya: Peringatan agar bijaksana menghadapi suatu permasalahan. Toleransi dan tenggang rasa perlu dipupuk supaya keinginan tercapai tanpa kekerasan. Di sisi lain juga bermakna berlaku bijaksanalah, dengan toleransi dan tenggang rasa, saat menghadapi permasalahan agar solusi tercapai tanpa kekerasan atau kesewenangan.



Sumber Inspirasi
http://fib.ui.ac.id/akademik/program-sarjana-s1/program-studi-sastra-indonesia.html
https://www.nama.web.id/country-origin-Indonesia_-_Bugis.html
http://rabiahrabiahrabiah.blogspot.co.id/2011/01/pengantar-sastra-klasik.html



Komentar